Senin, 29 April 2013

TRAPANG(KERIS LAMPUNG)

Keris


Keris sebagai Benda Upacara
Keris jenis ini biasanya tidak dipandang mamiliki kekuatan magis. Asal pemilikannya pun biasanya bukan merupakan warisan dari orang tua. Bentuknya biasanya merupakan sebuah keris yang indah, kadang berlapis logam mulia, mulai dari gagang hingga ke sarungnya. Tidak 0Jarang sarungnya diukir sedemikian rupa menyerupai ukiran barang-barang dari emas. Di dae¬rah Lampung keris ini disebut tekhapang/punduk keris yang indah seperti ini digunakan untuk upacara perkawinan dan dipakai oleh pengantin Aria, yang diselipkan di pinggang bagian depan atau dipegang dengan tangan kanan (berbeda dengan pengantin Jawa, keris diselipkan di pinggang bagian belakang/punggung).

Keris sebagai Bagian dari Kesenian
Dahulu menurut orang-orang tua, apabila nda kesenian silat orang memegang keris dalam pertunjukannya, di samping juga digunakannya tombak dan pedang. Keris yang digunakan untuk pertunjukan silat ini, biasanya tidak dipan¬dang memiliki kekuatan magis. Kini orang Lam¬pung dalam pertunjukan seperti ini tidak lagi Menggunakan keris.

Untuk melihat bagaimana cara pembuatan keris di daerah Lampung perlu penelitian lebih lanjut, karena:

1. Di daerah Lampung keris saat ini banyak di buat di Lampung Utara terutama di Tulangbawang udik.

2. Penggunaan keris di daerah Lampung, hanya merupakan benda pusaka, atau benda seni (sebagai benda kelengkapan upacara pernikahan dan seni pencak silat).

Sebagaimana diketahui bahwa keris yang ada di daerah Lampung banyak mendapat pengaruh dari daerah Jawa, hal ini dapat dimengerti ka¬rena dahulu daerah Jawa memiliki kerajaan-kerajaan besar. Sedang empu pembuat keris ketika itu merupakan penjual jasa bagi kebutuhan orang-orang/pembesar kerajaan, sedang empu dl Lampung banyak juga yang berasal dari meranjat (ogan Komering Ilir Sumatera Selatan) yaitu etnis Lampung Kayu Agung yang secara geografli sekarang meniadi wilayah Sumatera Selatan. Sampai kini ternyata keris masih dibuat oraw Lampung khususnya di Tulang Bawang Tengal (Lampung Utara).

Di daerah Jawa dikatakan bahwa bahan pembuatan keris meliputi besi, Baja, pamor yang berasal dari batu bintang (meteorit) atau nikel. Menurut informasi bahwa daya tahan panas batu meteorit dalam proses garap keris jauh lebih tahan. Pada temperatur tertentu in buah besi. tang dipanggang api akan luluh, tetapi sebuah meteorit yang lazim untuk pamor pada temperatur yang sama tidak luluh.

Pada dewasa ini di Lampung keris bukan lagi untuk senjata perang, tinggal fungsi lain yang masih lazim dikenal: Umpamanya, pelengkap pakaian adat tradisional, pelengkap upacara tradisional, pelengkap konsep hidup ideal sebagai apa yang disebut gagaman/peselok, pelengkap eksotisme lama dalam hidup zaman mo dern. Di Lampung dikenal ada konsep hidup lengkap bagi seorang pria dewasa, yaitu antar lain wisman (bulamban), tenangga, kukila (segokan), jama (istri) dan pemenah (pusaka).

Untuk melihat apakah konsep itu terpakai oleh masyarakat suku bangsa Lampung, secara tersamar, namun terlalu banyak variasi untuk mengatakan bahwa di daerah Lampung konsep tersebut juga berlaku, bahkan bukan tidak mungkin konsep itu tidak ada, karena secara tradisi Lampung secara setempat-setempat sedikit banyaknya ada perbedaan dengan tradisi yang berlaku secara umum. Namun demikian yang pasti setiap berbusana adat punduk/tekhapang harus hadir.

Sumber :
Fachruddin drs dkk, Senjata Tradisional Lampung, 1991/1992 , Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai tradisional Bagian Proyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah Lampung.

Foto : http://4.bp.blogspot.com

BUMIKU LAMPUNGKU

Minggu, 04 November 2012


BUMIKU LAMPUNGKU

lampung adalah provinsi yang terletak di ujung pulang Sumatra, atau pintu masuk ke pulau andalas,sebutan serambi Sumatra juga menjadi nama lain untuk provinsi lampung.

Lampung adalah salah satu provinsi yang memiliki beragam suku di dilihat dari segi tempat dan lokasi lampung yang merupakan pintu masuk kepulau Sumatra otomatis akan menjadi tempat persinggahan bagi para pendatang, dan juga masyarakat lampung yang juga ramah dan welcome membuat para pendatang merasa nyaman singgah dilampung.
Lampung memiliki semboyan SANG BUMI RUA JURAI menjadi semboyan yang baik untuk para pendatang, lampung juga memiliki beragam kesenian bahkan suku lampung dibagi menjadi 2 bagian yaitu lampung sai batin dan pepadun, dari segi dialeg juga memiliki 2 dialeg A dan O (API, DAN NYO) masyarakat lampung juga sangat menjunjung tinggi persatuan dan adat istiandat, bisa dilihat dari kebiasaan orang lampung yang sering sekali berbicara bahasa daerah dimna pun berada, meski dikramain skalipun, tidak itu saja bisa dilihat betapa kuat persatuan lampung saat ada acara berupa  hajat atau apapun orang lampung akan ramai-ramai saling membantu sampai terkadang lupa waktu, dan juga orang lampung sangat menghargai sesama suku lampung, krna jika sudah berbicara lampung meski tidak kenal orang lampung akan saling sapa dan berjabat tangan.
Lampung juga meiliki beagam tempat wisata yang menakjubkan dan indah diantanranya adalah taman safari gajah di way kambas, pantai lumba-lumba di teluk kiluan tanggamus, tempat surfing di krui lampung barat, air terjun waylaan di tanggamus,pasir putih di lampung selatan, lembah hijau di Bandar lampung dll.
Selain wisata lampung yang disebut juga kota gajah memiliki beragam kesenian dan makanan khas diatanya kesenian tari cangget, tari sembah dll, selain itu juga lampung memiliki kesenian pencak silat  lampung dan beragam festival diantaranya festifal Krakatau, festival teluk kiluan di kabupaten tanggamus.
Makanan khas dari masyarakat lampung ada berbagai ragam, diantaranya saruit,bebek gila,tempoyak dll
yang pastinya masyarakat lampung memiliki cirri khas dimakananya yaitu pedas.

berajak dari keindahan dan pesona dilampung, masyarakat lampung juga terkenal dengan pemberaninya dimanapun berada selamamasih menginjak bumi lampung masyarakat lampung akan terus menjadi number one tanpa mempedulikan dimana mereka berada, rasa persatuan dan pemberani ini yang kadang membuat orang lampung atau ulun lampung terkadang bergesekan dengan suku lain yang berada didaerah lampung, contoh dengan bali lampung tidak akan pernah harmonis karna sifat orang bali yang juga terkadang membuat kesal orang lampung, mereka terkadang mengusik ketenangan orang lampung, kejadian di sidomulyo agustus 2012 lalu juga menjadi bukti keditak harmonisan kedua suku.
tapi kejadian baru-baruini tepat tanggal 28 dan 29 oktober 2012 tepatnya didesa balinuraga waypanji kalianda lampung selatan membuat semua masyarakat gempar bentrok kedua suku yang berawal dari bentrok antar desa merembet menjadi antar suku lampung vs bali masyarakat bali yang mungkin juga cukup banyak yang berada dilampung tidak bisa menampung puluhan ribu bahkan ratusan ribu msyarakat lampung yang datang berbondong-bondong datang kedesa balinuraga untuk menyerang bali. Alhasil 12korban yang terdiri dari pria dewasa maupun orang tua menjadi korban, kalianda bak menjadi lautan api, ratusan rumah terbakar, puluhan korban,ribuan orang mengungsi adalah gambaran kecil dari kejadian balinuraga. Kalianda berdarah mungkin pas untuk sebutan saat itu.
bentrok berdarah tersebut juga harus melibatkan berbagai oknum POLRI maupun TNI, lebih dari 4000 personel gabungan dari polri dan tni harus dikerahkan, lebih parah lagi 3ssk harus dikluarkan oleh kapolri timur pradopo untuk mengamankan kerusuhan, bahkan pasukan dari berbagai daerah harus didatangkan dilampung.
masyarakat lampung yang sangat terkenal bersatu dan kompak membuat suku bali yang berada dilampung harus mengungsi. Pasukan dari berbagai daerah yang mengatas namakan lampung bersatu berkumpul dikalianda lampung untuk melakukan serangan ke kampong bali. Tokoh adat,tokoh agama,oknum polri dan tni tidak bisa berbuat bnyak karna masa mencapai +25000 orang.
mungkin bnyak orang yang menyamakan ini dengan kerusuhan sampit dulu antara dayak dan Madura.
bnyak juga yang menyebut orang lampung kejam dan jahat tanpa prikemanusian, tapi apapun itu kami mempertahankan tanah leluhur, tanah moyang,tanah yang ditinggalkan oleh pahlawan kami, tanah peninggalan raden intan. Tidak akan ada asap jika tidak ada api, orang lampung juga tidak gila, maen bunuh jika tidak ada salah.

andai para pendatang bisa menghormati kami sebagai tuan rumah, kami tidak akan mengusik kalian, bukan hanya bali.. jawa,sunda,banten,batak,Palembang,padang, apapun suku kalian kami akan hargai kami tidak akan usik selama kalian dibumi radden intan ini menghargai dan menghormati kami. Kami akan menghargai bahkan saling menjaga.
kebersamaan,rasa saling menjaga,persaudaraan sesama orang lampun mungkin membuat semua hal ini juga terjadi, melihat harga diri saudara terinjak-injak membuat masyarakat suku lampung geram.
suku lampung yang memiliki prinsip “PI’IL PESENGGIRI” memaksa suku lampung harus bertindak tegas terhadap pendatang. Piil pesenggiri atau harga diri yang lebih dari segala bagi orang lampung adlah hal yang tidak boleh diinjak” atau dilecehkan.
karna jika sudah membawa nama piil orang lampung akan bertindak apa saja, hal inilah yang membuat suku lampung terkadang gelap mata, karna piil atau harga diri ini.
suku lampung yang merasa tuan rumah merasa tersinggung atas perlakuan orang bali terhadap saudara mereka. Mungkin hal nyawa harus dibayar nyawa adalah salah satu hal yang biasa dipakai oleh ulun lampung,apa lgi jika pelakunya adalah berasal dari suku lain, ini akan menodai piil orang lampung yang terkenal sangat dipegang teguh.
siapa yang tidak marah jika anak cucu diusik oleh orang lain diganggu dirumah sendiri dibumi nenek moyang mereka,jika saja kita bisa saling menjaga mungkin hal ini tidak akan terjadi.
tappi semua sudah terjadi, apapun hal yang kita sesali sudah terjadi.
somaga kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua bukan hanya bali tapi semua suku yang ada dilampung, bahwa kesalahan kecil akan besar jika kita tidak saling menghargai dan saling menghormati dan saling menjaga bumi kami “SANG BUMI RUA JURAI” ini.
betapa indah jika kita saling bersama dan damai, lihat akibat kesalahan orang-orang yang menyulut kerusuhan, mereka yang tidak besalah menjadi korban.

sampai kapanpun selama masih kami berdarah lampung kami akan selalu teguh dan kuat mempertahankan tanah kami, tanah lampung yang kami cintai ini.
untukmu baktiku padamu lampungku.
semboyan ikam mak khabai matei (kami tidak takut mati) akan selalu kami junjung tinggi dan kami pertahankan sampai anak cucu kami.

untuk para kalian yang ingin datang kelampung tidak perlu kwatir dan risau kami akan selalu member senyuman kepda kalian, kami tidak akan mengusik ataupun menggangu.
kami cinta damai karna damai itu indah
J

sekian artikel yang saya buat soal tanah leluhurku,tanah kelahiranku,tanah moyangku,tanah yang ku cintai, LAMPUNGKU
damailah lampungku,tanahku,bumiku, terus dan tetap jayalah LAMPPUNGKU!!!!
kami bertahan karna kami mampu, kami ada karna kami bisa,  kami bangga menjadi suku lampung, suku yang akan terus menjaga persaudaraan,persatuan,kebersamaan antar sesama, kami kuat karna kami BERSATU UNTUK LAMPUNG!!!
Tetap junjung tinggi persaudaraan,persahabatan,dan saling bergandengan.
J

AKIK MAK KHAM SAPA LAGI, AKIK MAK GANTA KAPAN LAGI”
GUAI LAMPUNGKU, IKAM SELALU NGEDOK UNTUK MEMPERTAHANKO NAMAMU NAMA LAMPUNG”
SAMPAI DARAH IKAM BELA, SAMPAI NAFAS IKAM BEKHADU,SAMPAI ANAK CUCU IKAM,SAMPAI KETUKHUNAN IKAM BELA, IKAM AKAN SELALU JADI ULUN LAMPUNG SAI MENCINTAIMU!!!
JAYALAH LAMPUNGKU!!! CINTAI LAMPUNG, TANAH SANG BUMI RUA JURAI INI.!!!

post by : RIFKI  è ULUN LAMPUNG ASLI
ARTIKEL INI DIBUAT ATAU DIKARANG LANGSUNG OLEH SAYA SENDIRI (RIFKI) PADA TANGGAL 31 OKTOBER 2012 DAN SELESAI PADA TANGGAL 2-NOVEMBER 2012. BAGI YANG INI MENGCOPY ATAU MENABAH ARTIKEL, HARUS ATAS IZIN PEMBUAT. TERIMA KASIH SEBELUMNYA.
ILMU ITU MAHAL, ILMU ITU BERHARGA, HARGAI KARYA ORANG LAIN. J

6 komentar:

  1. subjek yang anda tulis sangat berat mengangkat tentang kelampungan kita terutama PIIL PESENGGIRI.namun terasa renyah dan mudah di cermati karena kepiawaian anda merangkai kata.secara umum saya sepakat dengan tulisan ini nyak juga asli lampung,jak krui.saya disini hanya menambahkan.piil pesenggiri memaang benar tentang harga diri,tapi harga diri yang seperti manakah itulah yg belum tuntas di jabarkan dalam artikel ini sehingga menjadi sedikit bias dan akan mengundang multi prestasi oleh orang yg blum mengerti hakikat piil pesenggiri.piil pesenggiri dengan kelampungan itu sendiri tidak bisa di pisahkan.menjadi ruh dan raga yang saling keterkaitan
    Balas
  2. UNTUK LEBIH JELAS TENTANG PIIL PESENGGIRI KUNJUNGI OM GOOGLE,HE HE HE
    Balas
  3. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
    Balas
  4. hahahaha.. iya" krui lampung barat yuu :)
    pemilik salah satu wisata surfing terbaik di indonesia

    salam hangat dari sikam jelma tanggamus:)

    trima kasih untuk koreksinya :)
    Balas
  5. Pemilik surfing dan diving kelas dunia masih ada di Bali, 2013 ini bnyak acara tngkat dunia yg akan diadakan di Bali cntohnya Miss World 2013 dan Konferensi PBB. Tetap damai untuk provinsi lampung yg lama kelamaan berubah julukan mnjadi Blangkon Sumatra karena daerah lampung sudh dipenuhi orng Jawa.

    TOLERANSI ITU INDAH
    Balas
  6. tdk akan pernah menjadi jawa karna lampung tetap lampung
    Balas

Minggu, 28 April 2013

beladiri asli suku lampung

beladiri asli suku lampung

bela diri asli suku lampung (traditional martial art of lampung ethnic)di sebut silEk lampung,silik lampung,dan pincak lampung.adapun perbedaannya dengan aliran pencak silat lain sangat kontras.yakni jika seni bela diri asli suku lampung baik dari gerakan maupun langkah tidak bertele tele dan lama lama.lebih efesien dan lebih efektif.waktu belajar yang relatif singkat
yang sangat menekankan pada aspek fisik,ruhani,mental.pradigma berfikir,kepahaman keberanian dan jiwa ksatria

keyword:

kecepatan
ketepatan
kesederhanaan
kepahaman
keberanian

    tar ya di lanjutin coz q ngantuk berat.

penulis:joni sepriyan(meranai lampung krui )
mahasiswajurusan manajemen universitas sriwijaya

beladiri asli suku lampung

bela diri asli suku lampung (traditional martial art of lampung ethnic)di sebut silEk lampung,silik lampung,dan pincak lampung.adapun perbedaannya dengan aliran pencak silat lain sangat kontras.yakni jika seni bela diri asli suku lampung baik dari gerakan maupun langkah tidak bertele tele dan lama lama.lebih efesien dan lebih efektif.waktu belajar yang relatif singkat
yang sangat menekankan pada aspek fisik,ruhani,mental.pradigma berfikir,kepahaman keberanian dan jiwa ksatria

keyword:

kecepatan
ketepatan
kesederhanaan
kepahaman
keberanian

    tar ya di lanjutin coz q ngantuk berat.

penulis:joni sepriyan(meranai lampung krui )
mahasiswajurusan manajemen universitas sriwijaya

BANGSA LAMPUNG ADALAH BANGSA BESAR

BANGSA LAMPUNG ADALAH BANGSA YANG BESAR
penulis:joni sepriyan

bangsa lampung adalah bangsa besar yang di tandai dengan besarnya jumlah suku ini yang termasuk rumpun suku besar di negara ini(indonesia).bangsa lampung adalah bangsa besar dan pernah besar peradabannya di nusantara.meski kini khasanah khasanah untuk mendukung klaim ini masih terserak namun tidak menyurutkan atau mengurangi keyakinan tentang hal ini.banyak referensi mengatakan bahwa bangsa yang pernah maju di tandai banyak hal.contoh angka,aksara/hurup dan ciri-ciri yang masih melekat lainnya baik dari sosial budaya masyarakat maupun dalam pandangan hidup dan karakter maupun arsitektur dsb.kekomplekan pembahasan tentang cakupan untuk mendukung argumen ini adalah samudera lautan petualangan yang tak bisa di jabarkan secara gamblang sendirian namun butuh banyak referensi,kajian,dan ekplorasi.semakin ditelisik semakin menguatkan kenyataan bahwa bangsa ini,adalah bangsa yang memenuhi kriteria tentang itu.sampai saat ini bangsa lampung adalah bangsa/suku yang memegang teguh prinsip prinsip kelampungannya.yang jika diarahkan pada suatu hal positif yang sesuai dengan yang di maksudkan tuntunan adat dalam falsafah falsafah bijaknya tentu akan sangat berdampak semakin menonjolkan cahaya keaguang suatu peradaban besar misterius itu.bangsa lampung berasal dari peradaban skala bhra jauh sebelum masehi

yang kemudian tersebar dalam tanoh lampung tanoh marga yang meliputi provinsi lampung,sebagian prov sumatera selatan,selatan bengkulu,dan enclave lainnya yakni cikoneng pak pekon provinsi lampung.menurut generasi2 awal peneliti tentang kerajaan/kedatuan sriwijaya yang dimuat dalam jurnal amerika.seriwijaya awal bermula dari suatu daerah disumatera bagian selatan(kini meliputi prov lampung,sumsel,jambi,bengkulu,babel)dipedalaman yg agak jauh dari palembang yakni di suatu daerah yang memiliki danau yang dilatari dua gunung.yakni danau ranau dan gunung seminung dan gunung pesagi.daerah yang di percayai oleh bangsa lampung sebagai wilayah sakral tempat awal bangsa lampung sebelum menyebar.baik yang mengikuti way/batanghari(air/sungai)krui,komering,waykanan,dst,mereka mengakui hal ini.dalam penelitian lama dalam bahasa asing dinyatakan jika orang lampung(pribumi)di tanya dari mana mereka berasal.maka mereka akan menunjukkan daerah ini sebagai asal daerah mereka.bangsa yang pernah besar dan maju juga di tandai dengan karakter masyarakatnya.sejarah mungkin bisa di manipulasi oleh rezim berkuasa namun tidak bisa menghapus hal fundamental yang melekat yang jadi kebanggakaannya.suku bangsa lampung adalah suku yang punya taatanan adat budaya yang tak terpisah dengan pemerintahan tradisionalnya.karena sesungguhnya pemangku adat sejatinya adalah pemangku pemerintahan.bukan seperti yang dimaknai kini oleh republik ini(NKRI).hingga kini pemerintahan adat sangat di junjung tinggi,didengarkan dan di hormati kaumnyajika adat budaya lampung benar benar di amalkan maka ada pemerintahan dalam pemerintahan.ini sebagai contoh bkn alasan pembenaran atau bermaksud provokasi hanya untuk mengggambarkan karakteristik bangsa ini.bentrok besar antar suku di indonesia yang sangat menjadi sorotan nasional dalam sejarah indonesia berdiri hingga sekarang hanya dua.pertama krusuhan dikalimantan yakni dayak vs madura.dua lampung vs bali.sebenarnya dua pristiwa ini tidak bisa disamakan sebab dalam kasus ini berbeda.jika lampung vs bali adalah soladaritas spontanitas karena dipicu oleh suatu yang tabu dan sakral bagi bangsa ini.yakni pelecehan seksual,darah yg trtumpah dizolimi dan nyawa dihilangkan dengan cara yang tidak beradab.reaksi spontan yg tidak terkoordinasi ini menjadi ledakan yang sangat mengguncang secara nasional bahkan gaungnya sampai mancanegara.bangsa ini adalah bangsa penyabar,cinta damai,dan sangat menjauhi sikap permusuhan bkn karena takut tapi menahan diri karena falsafah falsafah yang menjadi kearifan bangsa ini(bangsa lampung,red).namun jika semua cara masih tak bisa mengatasi keganasan bahkan mereka jadi korban reaksi nya tidak berlebihan bahkan jika bisa diselesaikan sendiri itu lebih baik.namun jika berhubungan dengan suatu yang sakral dan tabu (yakni masalah hrga diri secara adat dan agama)maka jika di ingatkan dengan baik malah makin ganas maka setiap individu dari bangsa ini tau apa yg harus mereka lakukan,yakni lawan!.cukuplah kiranya percakapan radin intan 2 ,pahlawan dari lampung dengan ibunya.saat kezaliman penjajah belanda merajalela di tanoh lampung.
radin intan 2:"apa ubat malu ibu ?"
ibu :"mati anak ku"
maka perang besarpun terjadi yang sangat merepotkan dan merugikan penjajah belanda.

Senin, 15 April 2013

kaitan antara suku LAMPUNG,BATAK,BUGIS

Meski mitologi masyarakat Lampung tidak menyebut Batak, justru mitologi Batak menyebut salah satu garis keturunan mereka melakukan migrasi ke Lampung. Isneini (Lampost, 23 Desember 2007) menulis bahwa masyarakat Batak terdiri dari Raja Batak yang bernama Toba, dengan dua adik bernama Lapung yang bermigrasi ke Lampung dan Sumatera Selatan dan Boni (Bone) yang bermigrasi ke Sulawesi Selatan.

Dalam buku Sejarah Daerah Lampung (1977), disebutkan bahwa orang Lampung adalah keturunan Ompu Silamponge (Silamponga) yang melakukan migrasi dari Tanah Batak setelah terjadinya gunung meletus yang mengakibatkan terbentuknya Danau Toba. Ompu Silamponge beserta rombongan berlayar dan terdampar di Pantai Krui. Mereka kemudian mendaki Gunung Pesagi, sebagian rombongan menuju Rejang Lebong dan Komering, sebagian lagi menetap di Sekala Brak. Asal kata Lampung diduga berasal dari nama Ompu Silamponge. Dugaan keterkaitan antara Batak dengan Lampung dapat dilacak dari beberapa kesamaan bentuk Aksara Batak dengan Aksara Lampung serta kesamaan sejumlah kata dalam Bahasa Batak dan Bahasa lampung. Meskipun kesamaan ini dapat diartikan bukan saling memengaruhi, tapi karena sama-sama berasal dari sumber aksara dan bahasa yang sama dan kemudian berkembang di wilayah masing-masing.

kaitan sejarah asal muasal suku lampung secara umum dan komering khususnya

Kamis, 17 November 2011

Asal Muasal Orang Lampung dan Komering

1. Asal Muasal Orang lampung

**** buaypernong.blogspot.com ****
Sekala Beghak, artinya tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia pula. Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl), gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang, Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya di sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa Lampung.

Pengelana Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.

Sekala Beghak (biasa ditulis Skala Brak), adalah kawasan yang sampai kini dapat disaksikan warisan peradabannya. Kawasan ini boleh dibilang kawasan yang “sudah hidup” sejak masa pra-sejarah. Batu-batu menhir mensitus dan tersebar di sejumlah titik di Lampung Barat. Bukti, ada tanda kehidupan menyejarah.

Sebuah batu prasasti di Bunuk Tenuar, Liwa berangka tahun 966 Saka atau tahun 1074 Masehi, menunjukkan ada jejak Hindu di kawasan tersebut. Bahkan di tengah rimba ditemukan bekas parit dan jalan Zaman Hindu. Ada lagi disebut-sebut bahwa Kenali yang dikenal sekarang sebagai ibukota Kecamatan Belunguh, adalah bekas kerajaan bernama “Kendali” dengan “Raja Sapalananlinda” sebagaimana disebut dalam “Kitab Tiongkok Kuno”. Kata “Sapalananlinda” oleh L.C. Westenenk ditafsir sebagai berasal dari kata “Sribaginda” dalam pengucapan dan telinga orang Cina. Jadi bukan nama orang tapi gelar penyebutan. Buku itu konon juga menyebut, bahwa Kendali itu berada di antara Jawa dan Siam-Kamboja. Kitab itu, menyebut angka tahun antara 454 – 464 Masehi. Kitab ini telah disalin ke dalam bahasa Inggris oleh Groenevelt (Wikipedia Indonesi, 2007).
Meski belum seluruhnya terbaca, namun dapat disimpulkan: di situ tercatat suatu peradaban panjang. Suatu kawasan tua yang mencatatkan diri dalam sejarah umat manusia. Di wilayah ini pula pernah berdiri sebuah kerajaan. Ada yang menyebut kerajaan tersebut adalah Kerajaan Tulang Bawang, namun bukti-bukti keberadaannya sulit ditemukan. Sedang keyakinan yang terus hidup dan dipertahankan masyarakat khususnya di Lampung Barat serta keturunan mereka yang tersebar hingga seluruh wilayah Sumatera Selatan, menyebutkan Kerajaan Skala Beghak. Pendapat ini juga disokong oleh keberadaan para raja yang bergelar Sai Batin, hingga bukti-bukti bangunan dan alat-alat kebesaran kerajaan, upacara dan seni tradisi yang masih terjaga. Masih banyak bukti lain, namun perlu pembahasan terpisah.
Kalau membaca peta Propinsi Lampung sekarang, kisaran lokasi pusat Sekala Beghak berada di hampir seluruh wilayah Kabupaten Lampung Barat, sebagian Kecamatan Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu, Propinsi Sumatera Selatan. “Pusat kerajaan” meliputi daerah pegunungan di lereng Gunung Pesagi di daerah Liwa, seputar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau dan Kecamatan Balik Bukit.
Sebagai kesatuan politik Kerajaan Sekala Beghak telah berakhir. Tetapi, sebagai kesatuan budaya (cultural based) keber¬adaannya turun temurun tewarisi melalui sejarah panjang yang menggurat kuat dan terbaca makna-maknanya hingga saat ini. Sekala Beghak dalam gelaran peta Tanah Lampung, pastilah tertoreh warna tegas, termasuk sebaran pengaruh kebudayaannya sampai saat ini.
Tata kehidupan berbasis adat tradisi Sekala Beghak juga masih dipertahankan dan dikembangkan. Terutama, Sekala Beghak setelah dalam pengaruh “Empat Umpu” penyebar agama Islam dan lahirnya masyarakat adat Sai Batin. Adat dan tradisi terus diacu dalam tata hidup keseharian masyarakat pendukungnya dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi dan motivasi pengembangan nilai budaya bangsa.
Hasil pembacaan atas segala yang ada dalam masyarakat berkebudayaan Sai Batin di Lampung, memperlihatkan kedudukan dan posisi penting Sekala Beghak sebagai satuan peradaban yang lengkap dan terwariskan. Keberadaan Sekala Beghak tampak sangat benderang dalam peta kebudayaan Sai Batin, sebagai satu tiang sangga utama pembangun masyarakat Lampung. Bahkan, telah diakui, Sekala Beghak sebagai cikal bakal atau asal muasal tertua leluhur “orang Lampung”. Bahkan keberadaan Skala Beghak, berada dalam kisaran waktu strategis perubahan peradaban besar di Nusantara, dari Hindu ke Islam.
Bukti kemashuran Sekala Beghak dirunut melalui penuturan lisan turun-temurun dalam wewarah, tambo, dan dalung yang mempertegas keberadaan Lampung dalam peta peradaban dan kebudayaan Nusantara. Kata Lampung itu sendiri banyak yang menyebut berasal dari kata “anjak lampung” atau “yang berasal dari ketinggian”. Pernyataan itu menunjukkan bahwa “orang Lampung” berasal dari lereng gunung (tempat yang tinggi), yang dalam hal ini Gunung Pesagi. Pendapat yang sama juga ditemukan dalam kronik perjalanan I Tsing. Disebutkan kisah pengelana dari Tiongkok, I Tsing (635-713). Seorang bhiksu yang berkelana dari Tiongkok (masa Dinasti Tang) ke India, dan kembali lagi ke Tiongkok. Ia tinggal di Kuil Xi Ming dan beberapa waktu pernah tingal di Chang’an. Ia menerjemahkan kitab agama Budha berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Cina.

Dalam perjalanannya itu, kronik menulis I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671. Ia mengunjungi pusat-pusat studi agama Budha di Sumatera, di antaranya selama dua bulan di Jambi dan setelah itu konon tinggal selama 10 tahun di Sriwijaya (685-695). Dalam perjalanannya itu, I Tsing dikabarkan menyebut nama suatu tempat dengan “To Lang Pohwang”. Kata “To Lang Pohwang” merupakan bahasa Hokian, bahasa yang digunakan I Tsing.

Ada yang menerjemahkan “To Lang Pohwang” sebagai Tulang Bawang. Salah satunya adalah Prof. Hilman Hadikusuma, ahli hukum adat dan budayawan Lampung tersebut memberi uraian perihal sejarah Lampung, khususnya dalam menafsir To Lang Pohwang sebagai Kerajaan Tulang Bawang. Disebut-sebut berada di sekitar Menggala, ibukota Kabupaten Tulang Bawang saat ini. Meski bekas-bekas atau artefaknya belum terlacak, garis silsilah raja dan istana, komunitas masyarakat pewaris tradisi, dan banyak hal lagi yang masih tidak bisa ditemukan. Tidak hanya dari sudut pandang semantis untuk memaknai kata “To Lang Pohwang”, namun perlu pula didampingi kajian sosiologis dan arkeologis yang lebih mendalam.
Kata “To Lang Pohwang” berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak lampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.Merujuk pada dua pendapat itu, maka penunjukan “orang atas” mengarah pada Suku Tumi yang tinggal di lereng Gunung Pesagi di Lampung Barat. Mereka inilah cikal-bakal Kerajaan Sekala Beghak. Kerajaan ini di kemudian hari ditundukkan oleh para penakluk, mujahid dan pendakwah Islam yang masuk ke Sekala Beghak dari Samudera Pasai melalui Pagaruyung Sumatera Barat. Di bawah Ratu Mumelar Paksi bersama putranya Ratu Ngegalang Paksi, disertai juga para Umpu, empat cucu Ratu Mumelar Paski. Mereka masuk untuk kemudian menguasai kawasan tersebut setelah menundukkan Suku Tumi. Para Umpu, keempat putra Ratu Ngegalang Paksi itulah yang kemudian melahirkan Paksi Pak Sekala Beghak dengan segala kebudayaannya, berkembang dan beranak pinak untuk kemudian menyebar ke seluruh Lampung dan sejumlah daerah. Karena kerajaan Sekala Beghak lama (animisme/dinamisme) telah dikalahkan dan dikuasai sepenuhnya oleh keempat Umpu keturunan Ratu Ngegalang Paksi, maka kemudian adat-istiadat dan kebudayaan yang berkembang dan dipertahankan hingga kini merupakan peninggalan Kerajaan Sekala Beghak Islam.
Dalam tambo-tambo ( tambo tambo terdahulu, disalin dari dalung (tarikh yang ditulis pada tembaga/kuningan), tanduk kerbau dan kitab kulit kayu ) dan wewarah, “Empat Umpu” ( Umpu Belunguh; Umpu Nyekhupa, dan Umpu Pernong; Umpu Bejalan Diway) banyak disebut memiliki peran sentral dalam membangun masyarakat adat Sai Batin, Paksi Pak Sekala Beghak. Pada periode selanjutnya, penyebaran orang-orang Sekala Beghak ini dapat dirunut dari kisah-kisah tentang kepergian mereka melalui sungai-sungai.
Bahkan, sebagian orang-orang Komering pun mengaku sebagai keturunan Sekala Beghak. Mereka diperkirakan keturunan Pasukan Margasana yang dikirim Kerajaan Sekala Beghak ke Komering untuk menghadang serangan sisa-sia prajurit Kerajaan Sriwijaya yang telah runtuh sebelumnya. Seperti halnya keberadaan Suku Ranau sekarang, diakui juga berasal dari Sekala Beghak, Lampung Barat. Di sekitar Danau Ranau di Banding Agung, Ogan Komering Ulu itu semula dihuni Suku Abung yang setelah kedatangan orang-orang Sekala Beghak pada abad ke-15 mereka pindah ke Lampung Tengah.
Seperti dikutip Harian KOMPAS, (11 Desember 2006:36), pada abad 15 datang empat kelompok masyarakat yang menduduki sekitar Danau Ranau. Di sebelah barat danau dihuni orang-orang yang datang dari Pagaruyung Sumatera Barat dipimpin Dipati Alam Padang. Sementara itu, tiga kelompok lainnya berasal dari Sekala Beghak. Tiga kelompok orang-orang Sekala Beghak itu dipimpin Raja Singa Jukhu (dari Kepaksian Bejalan Diway), menempati sisi timur danau. Di sisi timur danau pula, kelompok yang dipimpin Pangeran Liang Batu dan Pahlawan Sawangan (berasal dari Kepaksian Nyekhupa) menempat. Sementara kelompok yang dipimpin Umpu Sijadi Helau menempati sisi utara danau. Empu Sijadi Helau yang disebut-sebut itu bukan Umpu Jadi putra Ratu Buay Pernong, yang menjadi pewaris tahta Buay Pernong. Kemungkinan besar Umpu Sijadi di daerah Ranau tersebut adalah keturunan Kepaksian Pernong yang meninggalkan Kepaksian dan mendirikan negeri baru di Tenumbang kemudian menjadi Marga Tenumbang.
Ketiga kelompok dari Sekala Beghak ini kemudian berbaur dan menempati kawasan Banding Agung, Pematang Ribu, dan Warkuk. Sampai sekarang banyak orang Banding Agung mengaku keturunan Paksi Pak Sekala Beghak. Di samping itu, ada kisah-kisah perpindahan orang Sekala Beghak, sebagaimana ditulis dalam Wikipedia (7/3/07: 04.02), yang dipimpin Pangeran Tongkok Podang, Puyan Rakian, Puyang Nayan Sakti, Puyang Naga Berisang, Ratu Pikulun Siba, Adipati Raja Ngandum dan sebagainya. Bahkan, daerah Cikoneng di Banten ada daerah yang diberikan kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kepaksian Belunguh atas jasa-jasanya, dan banyak orang Sekala Beghak yang migrasi ke sana atau sebaliknya.
Kisah-kisah ini memperkuat suatu kenyataan bahwa Sekala Beghak tidak hanya sebagai sumber muasal secara geografis, melainkan juga sumber kultur masyarakat. Sekala Beghak adalah hulu suatu kebudayaan masyarakat. Dari Sekala Beghak ini juga lahir huruf Lampung yaitu Kaganga. Bagi sebuah kebudayaan, memiliki bahasa dan aksara sendiri merupakan bukti kebesaran masa lalu kebudayaan tersebut. Di Indonesia hanya sedikit kebudayaan yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Lampung (Sumatera Selatan), Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan yang memiliki aksara sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan unggul. Karena bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus simbol kemajuan peradaban.
Semua aksara Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang berinduk pada bahasa Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India dan Asia Tenggara. Di Nusantara bahasa ini mengalami penyebaran dan pengembangan, bermula dari bahasa Kawi, sebagai induk bahasa Nusantara. Dari bahasa Kawi menjadi bahasa : Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak, Lampung/Sumatera Selatan (Kaganga), dan Bugis.
Dari Kerajaan Sekala Beghak yang telah memiliki unsur-unsur “kebudayaan lengkap” ini pulalah “ideologi” Sai Batin dilahirkan dan disebarluaskan. Sampai saat ini, masih banyak yang bisa dibaca dari jejak-jejak yang tertinggal. Baik dari jejak fisik maupun jejak yang tidak kasat mata. Dari legenda, seni budaya, adat tata cara, bahasa lisan tulisan, artefak benda peninggalan, hingga falsafah hidup masih ada runut rujukannya. Dari Sekala Beghak itu di kemudian hari pengaruh budaya dan peradabannya berkembang dan berpengaruh luas ke seluruh Lampung bahkan sampai ke Komering di Sumatera Selatan sekarang. Tidak terhitung kemudian “pendukung budaya”-nya yang tersebar di seluruh Indonesia pada masa kini.
Perpindahan Warga negeri sekala brak :
( bisa diliha juga di : http://aldrinsyah.multiply.com/journal/item/79 )

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya semua suku bangsa Lampung, baik yang berada di daerah Lampung, Palembang, dan Pantai Banten berpengakuan berasal dari Sekala Brak. Perpindahan Warga Negeri Sekala Brak ini bukannya sekaligus melainkan bertahap dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting didalam sejarah seperti:
  1. Ketika suku bangsa Tumi yang mendiami Sekala Brak terusir dan Skala Brak jatuh ketangan Paksi Pak Sekala Brak, hingga mereka menyebar kedaerah lain.
  2. Perselisihan dan silang sengketa dikalangan keluarga yang mengakibatkan satu fihak meninggalkan Sekala Brak untuk mencari penghidupan ditempat lain.
  3. Adanya bencana alam berupa gempa bumi yang memaksa sebagian Warga Negeri Sekala Brak untuk berpindah dan mencari penghidupan yang baru.
  4. Adanya hubungan yang erat antara Kesultanan Banten dan Kebuayan Belunguh -Kenali, dimana dengan sengaja ditinggalkan disepanjang jalan beberapa orang suami istri untuk meluaskan daerah dan memudahkan perjalanan pulang pergi ke Banten. Sehingga berabad kemudian ditempat itu berdiri Pekon Pekon bahkan banyak yang sudah menjadi Marga. Hubungan inilah yang merupakan asal dari Cikoneng Pak Pekon di Pantai Banten.
  5. Perpindahan juga terjadi disebabkan peraturan adat yang mengikat yang menetapkan semua hak hak adat jatuh atau diwarisi oleh Putera Tertua, sehingga anak anak yang muda dipastikan tidak sepenuhnya memiliki hak apalagi kedudukan tertentu didalam adat. Dengan cara memilih untuk pindah kedaerah yang baru maka dapat dipastikan mereka memiliki kedudukan dan tingkatan didalam adat yang mereka bentuk sendiri ditempat yang baru.
Perpindahan penduduk dari Sekala Brak ini sebagian mengikuti aliran Way Komring yang dikepalai oleh Pangeran Tongkok Podang, untuk seterusnya beranak pinak dan mendirikan Pekon atau Negeri. Kesatuan dari Pekon Pekon ini kemudian menjadi Marga Atau Buay yang diperintah oleh seorang Raja atau Saibatin didaerah Komring –Palembang. Sebagian kelompok lagi pergi kearah Muara Dua, kemudian menuju keselatan menyusuri aliran Way Umpu hingga sampai di Bumi Agung. Kelompok ini terus berkembang dan kemudian dikenal dengan Lampung Daya atau Lampung Komring yang menempati daerah Marta Pura dan Muara Dua di Komring Ulu, serta daerah Kayu Agung dan Tanjung Raja atau Komring Ilir.
Kelompok yang lain yang dipimpin oleh Puyang Rakian dan Puyang Nayan Sakti menuju ke Pesisir Krui dan menempati Pesisir Krui mulai dari Bandar Agung di selatan pesisir hingga Pugung Tampak dan Pulau Pisang di utara. Kelompok yang dipimpin oleh Puyang Naga Berisang dan Ratu Piekulun Siba menyusuri Way Kanan menuju ke Pakuan Ratu, Blambangan Umpu dan Sungkai Bunga Mayang di barat laut Lampung untuk meneruskan jurai dan keturunannya hingga meliputi sebagian utara dataran Lampung.
Adipati Raja Ngandum memimpin kelompok yang menuju ke Pesisir Selatan Lampung Mengikuti aliran Way Semangka hingga kehilirnnya di Kubang Brak. Dari Kubang Brak sebagian rombongan ini terus menuju kearah Kota Agung, Talang Padang, Way Lima hingga ke selatan Lampung di Teluk Betung, Kalianda dan Labuhan Maringgai. Daerah Pantai Banten yang merupakan daerah Cikoneng Pak Pekon adalah wilayah yang diberikan sebagai hadiah kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kenali -Buay Belunguh setelah menumpas kerusuhan yang diakibatkan oleh Si Buyuh.
Sebagian lagi yang dikepalai oleh Menang Pemuka yang bergelar Ratu Di Puncak menyusuri sepanjang Way Rarem, Way Tulang Bawang dan Way Sekampung. Menang Pemuka atau Ratu Di Puncak memiliki tiga orang istri, istri yang pertama. berputera Nunyai, dari istri kedua memiliki dua orang anak yaitu seorang putera yang diberi nama Unyi dan seorang puteri yang bernama Nuban, sedangkan dari istri ketiga yang berasal dari Minangkabau memiliki seorang putera yang bernama Bettan Subing. Jurai Ratu Di Puncak inilah yang menurunkan orang Abung dan Tulang Bawang.


2. Asal Muasal Orang Komering

Suku Komering adalah satu klan dari Suku Lampung yang berasal dari Kepaksian Sekala Brak yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar abad ke-7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama Komering diambil dari nama Way atau Sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan Komering.Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering/Minanga: "Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh pagaruyung pemerintah bunda kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako" Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang, Sezaman dengan ranah pagaruyung pemerintah bundo kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa". ( Wikipedia )
------------------------------------------------------------------------------------------

Dalam kesempatan ini, penulis menyempatkan diri untuk membuat artikel yang berjudul “Suku Komering adalah Orang Lampung Juga”. Hal yang mendasari penulis membuat artikel ini adalah di karena ada pandangan dari sebagian masyarakat Komering (Sumatera Selatan) yang tidak mengaku sebagai bagian dari masyarakat Lampung. Hal tersebut perlu dikaji dengan bukti sejarah mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering, terutama ke Lampung.
Untuk lebih jelasnya mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering (dikutip dari Wacana Nusantara : Perjalanan Komering di Lampung) akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Asal-Usul Tujuh Kepuhyangan
Pada suatu ketika bergeraklah sekelompok besar turun dari dataran tinggi Gunung Pesagi menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit bambu, dan lain-lain. Menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri atau mengikuti dalam dialek Komering lama adalah Samanda. Kelompok pertama ini kita kenal kemudian dengan nama Samandaway dari kata Samanda-Di-Way berarti mengikuti atau menyusuri sungai.
Pada artikel yang berjudul Kebesaran Sriwijaya yang Tak Tersisa -The Rise of Sriwijaya Empire- (Komentar Agung Arlan), disebutkan bahwa Kepuhyangan Samandaway yang merupakan kepuhyangan tertua komering menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Sriwijaya dengan Pu Hyang Jaya Naga (Sri Jaya Naga) sebagai Raja Sriwijaya pertama yang berkedudukan di daerah dekat Gunung Seminung dan kemudian berpindah ke Minanga (Setelah itu Pusat Ibu Kota berpindah ke Palembang, dan yang terakhir ke Jambi pada beberapa kurun masa Kerajaan Sriwijaya).
Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian berpencar. Mereka mencari tempat-tempat strategis dan mendirikan tiga kepuhyangan. Kepuhyangan pertama menempati pangkal teluk yang agak membukit yang kini dikenal dengan nama Gunung Batu. Mereka berada di bawah pimpinan Pu Hyang Ratu Sabibul. Kepuhyangan kedua menempati suatu dataran rendah yang kemudian dinamakan Maluway di bawah pimpinan Pu Hyang Kaipatih Kandil. Kepuhyangan ketiga menempati muara dalam suatu teluk di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing. Di tempat ini kemudian dikenal dengan nama Minanga.
Tak lama setelah rombongan pertama, timbul gerakan penyebaran rumpun Skala Brak ini. Menyusul pula gerakan penyebaran kedua yang seterusnya mendirikan kepuhyangan keempat. Kepuhyangan keempat menemukan suatu padang rumput yang luas kemudian menempatinya. Mereka di bawah pimpinan Pu Hyang Umpu Sipadang. Pekerjaan mereka membuka padang ini disebut Madang dan kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang. Tempat pertama yang mereka duduki dinamakan Gunung Terang.
Kepuhyangan kelima di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung. Dari kegemarannya ini dinamakan pada nama kepuhyangan mereka menjadi “Pemuka Peliung”. Dari kepuhyangan ini kelak kemudian hari setelah Perang Abung menyebar mendirikan kepuhyangan baru, yaitu Kepuhyangan Banton oleh Pu Hyang Ratu Penghulu.
Kepuhyangan Pakuon oleh Puhyang itu dan Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu Hyang Umpu Ratu. Kepuhyangan Keenam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati Keramat. Istrinya, menurut kepercayaan setempat, berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang. Kepercayaan ini membekas dan diabadikan pada nama kepuhyangan mereka, yaitu Bunga Mayang (kelak kemudian hari, inilah cikal bakal Lampung Sungkai).
Kepuhyangan ketujuh di bawah pimpinan Pu Hyang Sibalakuang. Mereka pada mulanya menempatkan diri di daerah Mahanggin. Ada yang mengatakan kepuhyangan daya (dinamis/ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama marga atau kepuhyangan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini banyak menggunakan nama Bhu-Way (buway).
Nama kebhuwayan ini dibawa orang-orang dari Skala Brak baru generasi Paksi Pak. Ketujuh kepuhyangan yang mendiami lembah sungai yang kini dinamakan “Komering”. Masing-masing pada mulanya berdiri sendiri dengan pemerintahan sendiri. Di bawah seorang sesepuh yang dipanggil pu hyang. Mereka menguasai tanah dan air yang mereka tempati dengan batas-batas yang disepakati.
Ditinjau dari tujuan gerakan penyebaran (mempertahankan kelanjutan hidup kelompok untuk mencari tempat yang memberi jaminan kehidupan) serta cara mencari tempat yang strategis dalam mengikuti aliran sungai (samanda-diway), tampaknya Kepuhyangan Samandaway adalah yang pertama dan tertua. Orang-orang Samandaway menempati muara sampai di ujung tanjung (Gunung Batu).
2. Penyebaran Suku Komering Ke Lampung
Tak diragukan lagi, banyak orang Komering yang keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering untuk mencari penghidupan baru pindah ke wilayah yang dihuni etnis Lampung lain. Mereka membuka umbul maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama mungkin oleh marga Bunga Mayang yang kelak kemudian hari menjadi Lampung Sungkai/Bunga Mayang.
Seperti diutarakan Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997): “Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang Komering di tahun 1800 M pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s.d. 1834 M kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh Kebuayan Abung.”
Oleh Abung, Sungkai dinyatakan sebagai Lampung Pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang membawa nama kampung/marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering. Dari sini mereka kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya, dan sebagainya. Di daerah Sungkai Utara, seperti diceritakan Tjik Agus (64) pernah menjabat kacabdin di daerah ini, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara. Mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana.
Perpindahan berikutnya, dilakukan Kebuayan Semendaway, khususnya Minanga. Mereka menyebar ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah/Pulau Panggung, Bunglai, Cempaka (Sungkai Jaya) di Lampung Utara. Ke Sukadana Lampung Timur dekat Negeri Tuho. Juga masuk ke Pagelaran, Tanggamus.
Dua Kampung Komering di Lampung Tengah (Komering Agung/Putih), menurut pengakuan mereka, berasal dari Komering. Nenek moyang mereka berbaur dengan etnis Abung di Lampung-Tengah. Akan tetapi, mereka kurang mengetahui asal kebuayan nenek moyangnya (mungkin orang yang penulis temui kebanyakan usia muda <50 tahun). Mereka menyebut Komering yang di Palembang sebagai "nyapah" (terendam). Kemungkinan mereka juga berasal dari Minanga, karena kampung ini yang paling sering terendam air. Daerah Suka Banjar (Tiuh Gedung Komering, Negeri Sakti) Gedongtataan seperti diceritakan Herry Asnawi (56) dan Komaruzaman (70) (pensiunan BPN).
Penduduk di sana mengakui mereka berasal dari Komering (Dumanis) walaupun dialek mereka sudah tercampur dengan dialek Pubian. Tidak menutup kemungkinan dari daerah lain di Komering seperti Betung dan sebagainya, yang turut menyebar masuk daerah Lampung lain.
Melihat perjalanan dan penyebaran yang cukup panjang, peran dalam menyumbang etnis Lampung (Sungkai), serta menambah kebuayan Abung (Buay Nyerupa), tak ada salahnya kita mengetahui tentang dialek, tulisan, marga, maupun kepuhyangan yang ada di daerah Komering
3. Kesimpulan
Melihat asal-usul suku Komering yang awal mula berasal dari Skala Brak lalu menyebar ke daerah dataran Way Komering dan kemudian sebagian menyebar ke Lampung, dipastikan “suku komering adalah orang Lampung juga”. Dimana bahasa, huruf tulisan dan adat istiadat yang digunakan sama dengan orang Lampung.
Orang Komering melakukan perpindahan ke Lampung Tahun 1800-an, masuk ke daerah Abung Kebuayan Nunyai dan menetap disana menurunkan Lampung Sungkai (Bunga Mayang).
Kebuayan Semendaway (Kebuayan Tertua Komering) dari Minanga melakukan penyebaran ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah (Pulau Panggung), Bunglai, Cempaka – Sungkai Jaya (Lampung Utara), Sukadana (Lampung Timur dekat Negeri Tuho) dan Pagelaran (Tanggamus).
Selain itu juga mendirikan dua kampung yaitu Komering Agung/Putih (Lampung Tengah) dan Tiuh Gedung Komering – Negeri Sakti (Gedongtataan).
Pada artikel “Sejarah Keratuan Lampung” yang telah terbit sebelumnya, di daerah Komering khususnya di Martapura dulu telah berdiri Keratuan Pemanggilan. Keturunan Keratuan Pemanggilan menyebar ke daerah pesisir Barat Krui, Teluk Semaka, atau Teluk Lampung. Hal ini menjadi bukti bahwa sejak dulu masyarakat Komering yang tinggal di sekitar Martapura telah melakukan perpindahan ke berbagai daerah di Lampung (Pra atau Sejaman dengan Kepaksian Pak Skala Brak Abad ke-14) sebelum Sungkai Bunga Mayang pindah ke Lampung tahun 1800-an. Dari bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa orang Komering (Tua) yang telah melakukan perpindahan ke Lampung pada Pra atau Sejaman Kepaksian Pak menurunkan Suku Lampung Pesisir Pemanggilan (Lampung Pesesekh di Cukuh Balak, Kota Agung, Talang Padang, Kedondong dan Way Lima). Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa “Suku Komering adalah Orang Lampung juga”.
Bandar Lampung, 12 Mei 2009 / Oleh : JAMA’UDDIN
===============================================================
TENTANG CIKONENG PAK PEKON

( bisa anda lihat juga di : http://aldrinsyah.multiply.com/journal/item/79 )

Daerah Pantai Banten yang merupakan daerah Cikoneng Pak Pekon adalah wilayah yang diberikan sebagai hadiah kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kenali -Buay Belunguh setelah menumpas kerusuhan yang diakibatkan oleh Si Buyuh. dengan sebilah keris " senantan rangun" kepala si buyuh bisa diceraikan dengan badannya, keris beserta kepala sibuyuh disimpan oleh umpun belunguh hingga sekarang. ketika sultan banten hendak memenuhi janji sayembaranya yaitu pemberian separo dari kerajaan banten ternyata ditolak karena umpu junjungan sakti berterus terang ( dalam penyamarannya melakukan siba / In-cognitto ) bahwa kedudukannya adalah di sumatera. sebagai balas budi, sultan banten mengangkat beliau sebagai keluarga dan keturunannya dianggap sebagai bangsawan. disamping itu juga sultan banten menyerahkan satu sarung keris ( terapang) yang panjangnya dua hasta, terbuat dari emas berukir, sedangkan hulu balang yang menyertai Umpu junjungan sakti mendapat seutas tali, yang disebut "tali datu".
Tulang Bawang menurut cerita adalah terdiri dari 2 yaitu tulang/talang di komering dan bawang di pesagi, kedua2nya merupakan penyebaran awal masyarakat lampung yang bersala dari sekala berak kuno (SAKALA BAKA) di pesagi.. namun seiring berjalannya waktu.. keturunan talang mengikuti sungai komering (kemungkinan mendirikan sriwijaya), dan bawang ke pesisir barat krui dan selatan sampai kalianda-jabung (kemungkinan menurunkan kerajaan seputih/Yeh-Poti)..
Sedangkan dipedalaman lampung belum ada penghuninya (rimba).. Maka bisa dilihat peninggalan di daerah talang padang, pugung raharjo dll..

Baru pada penyebaran kedua terjadi setelah keturunan lampung asli bercampur dengan pendatang dari pagaruyung yang menyebarkan islam baru penyebarannya kedaerah2 pedalaman lampung sekarang, dan setelah itu baru berdiri adat pepadun (tahun 1700-an).. Sedangkan adat saibatin sudah sejak dulu dari nenek moyang di sekala berak sebelum islam..

Sedangkan pasukaan 40 orang dari lampung tersebut selain diambil dari skala berak, diambil dari keturunan lampung yang ada di pesisir selatan dan daerah tulang bawang yang keturunan komering.. Jadi orang lampung dulu tidak keberatan dia disebut dari sekala berak atau tulang bawang, ya asalnya nenek moyang mereka dari sekala berak juga (adat saibatin = sai-indra/sailendra = satu raja), sebelum adat pepadun berdiri..

26 komentar:

  1. lihat foto situs purbakala di sekala brak : http://stories.reynoldsumayku.com/?p=1172
    Balas
  2. Duluan mana Paksi Pak Sekala Brak di Liwa dengan Paksi Pak Tungkok Pedang di Krui...? Sejarah kita perlu di runut kembali seperti sejarah di pulau jawa.. jangan loncat sana loncat sini kayak kodok.. ujungnya nyemplung di kali...
    Balas
    Balasan
    1. asliamun sina,ram sebagai jelmalampung api salah na kan ngebudaya ko adat ram sayan sebagai mana nenek moyang ram saitidahuluko ho ngebudaya ko na munih.kita sebagai anak lampung wajib melestari kan budaya jagan cuman terpesona tau terkesan dg kesenian atau budaya dari daerah lain...
    2. Paksi Pak Tungkok Pedang itu kemungkinan tidak pernah ada,, yang ada Penjelasannya adalah Suku Tumi yang dipimpin oleh seorang ratu.
      Karena munculnya sebutan Paksi hanyalah ketika Paksi Pak Berdiri (zaman islam ) setelah mengalahkan satu satunya ratu adigdaya " ratu Sekeghumong" pemipin terakhir kerajaan sekala brak kuno,,
      dan Cerita2 warahan tentang kepuyangan diatas masih sangat diragukan,,
  3. silahkan terangkan saja analisis yang menurut anda benar, dengan senang hati saya membacanya,,,kan sama2 sharing,, tabik,,,

    dari krui??
    menurut pengetahuan saya, warahan/ cerita yg ditulis dari pak marwansyah warganegara,,
    ...Dari daerah Ranau ini keturunan Naga Barisang dibawah pimpinan Poyang Sakti pindah ke Cinggiring Skala Brak. Poyang Sakti sewaktu pindah dari Ranau masih berusia remaja, sedangkan kedua orang tuanya Poyang Naga Jaya sudah tua dan dalam keadaan sakit.

    Di Skala Brak Poyang Sakti berjumpa dengan Poyang Serata Di Langik dan Poyang Kuasa. Rombongan Poyang Sakti sebagian menetap di tiyuh Canggu dengan pimpinan Poyang Sai Jadi Saktiyang lain menuju cinggiring dibawah pimpinan Poyang Sakti. Sewaktu perjalanan menuju ke Cinggiring disekitar tiyuh Batu Brak, Poyang Sakti berjumpa dengan Poyang Pandak Sakti yang dating dari daerah Muara Dua. Mereka berempat sepakat membentuk persekutuan “Paksi Pak Tukket Pedang” yang terdiri dari :

    1. Poyang Sakti (Buay Balam)
    2. Ppoyang Kuasa Buay Semenguk)
    3. Poyang Serata Di Langik (Buay Nuwat)
    4. Poyang Pandak Sakti (Suku Pak Ngepuluh Buay Aji)

    itu menurut beliau,, mungkin lebih mengisahka kehidupan sebelum kedatangan empat umpu yang menjadi cikal baka paksi pak sekala brak,,

    nggak ada yang loncat2 disini, tapi menjelaskan dari berbagai sumber,, dan kalu dari anda aca cerita tentang kehidupan sebelum kedatangan 4 umpu tersebut, boleh2 boleh saja,, Tabik,,
    Balas
  4. Jelas bahwa komering adalah orang lampung.dari bahasanya saja sudah berbahasa lampung dialek A skala bghak.

    MINANGA dalam bhsa skala bghaknya berasal dari kata BUMI MENANG Sinonimnya = Minang, Menang, Lambung,dunggak,lambang, datas, tekhatas, tekhuggak, dati, tinggil, Bawang, ucung yang artinya atas atau tinggi, Bhsa halus untuk menyebut daerah yang ktinggiannya lebih tinggi dari daerah di sekitarnya di skala bghak di sebut BUMI MENANG.

    Org skla bghak menyebut orang lampung Komering SAMINANGA artinya bersal dari satu bukit (dataran tinggi/Bumi menang gunung pesagi dan sekitarnya).

    PALEMBANG dalam bahasa skala bghak PELAMBANG (taruh di Bagian atas) = PELAMBUNG (Bagian atas) = BAWANG LIMBANG (Bukit/gunung yg terjal). Jadi dari kedua nama tersebut menunjukkan bahwa orang minanga dan palembang berasal dari dataran Tinggi (Skala Bghak) atau gunung.

    KOMERING dalam bhasa skala bghak adalah MEGHING = TEGHING = ULOK = ULOK MULANG yang artinya aliran air di sungai, laut atau rawa yang memutar seperti pusaran, jadi Komering adalah sungai yang mempunyai pusaran air biasanya di muara/muagha/hamagha di sebut MUAGHA UPANG atau TEGHING CAGHOM (pusaran air yg banyak berkumpul).

    SAMANDAWAI dalam bhasa skala bghak adalah SAMANDA = SEMENDO Artinya menyebrang. dalam adat perakawinan di skala bghak ada istilah bakas samanda artinya laki-laki yang ikut/menyeberang mengikuti jurai istrinya.
    WAI = Air = Kata Wai sering di guanakan untuk memberi nama daerah yang ada sungai, atau danau atau daerah yang memiliki sumber air untuk kepentingan umun seperti telaga dll. Jadi SAMANDAWAI orang2 yang menyeebrangi air, bisa lewat sungai bisa lewat danau.

    JALMA DAYA = JAMMA DAYA = orang kuat/orang yang Berani.inilah masyarakat pertama skla bghak yang menyebar ke daerah lain, adok atau julukan jalma daya di berikan karena merekalah yang paling pertama berani dan sanggup untuk bermigrasi ke daerah lain, maka tidak aneh jika mereka memberi nama PALEMBANG di tempat mereka bermukim, karena mereka ingat akan asalnya dari dataran tinggi(Skala Bghak).
    Balas
    Balasan
    1. Palembang berasal dari bahasa Melayu karena daerah ini memang dipengaruhi oleh budaya Melayu. Palembang berasal dari kata Lembang yang berarti air yang merembes, atau air yang menggenang. Arti kata ini bisa kita telaah dengan jelas bahwa Palembang memiliki 108 anak sungai. Sehingga, kehidupan masyarakat Palembang hampir tidak bisa lepas dari sungai.
      jadi.... kalo Pelembang asal kata dari pelambung yaaaa salah besar pak.. jangan asal deh.
    2. lagi2 hipotesis, selmat berbagi saudara..
      tak ada yang harus menang atau kalah disini,,
      setiap manusia diperkenankan mengungkapkan apa yg ada dibenaknya,, tentu saja kembali keyakinan masing2,,

      salam kemuakhian,,
  5. tentang KOMERING, BISA ANDA BUKA JUGA CATATAN INI --KLIK ini:
    Tapak Tilas Asal Usul Suku Daya Bandar OKU Khususnya & Bangsa Komering serumpunnya

    http://www.facebook.com/topic.php?uid=126418054915&topic=16473
    Balas
  6. bagai mana dengan ini ?
    http://agen004.16mb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=111&Itemid=133
    pendapat anda????
    Balas
  7. wah bukti kalo pernah ada kapal nabi nuh singgah di gunung seminung itu apa ya?? hee,, ngeri denger ceritanya,, butuh penerangan lagi
    Balas
  8. saudara saliwa, anda jangan menulis artikel sejarah berdasarkan versi anda. sangat berbahaya jika dibaca oleh orang yang tidak tau sejarah.

    terlalu egois jika anda mengatakan orang komering adalah orang lampung juga sperti judul anda diatas.

    orang komering tdk pernah mengatakan orang lampung adalah orang komering juga, meski lbh lanyak judul artikel anda. sperti itu.

    pertanyaanya untuk apa anda mengarang2 sejarah, banayk orang yang anda rugikan. generasi2 muda kita, bangsa, bahkan dunia.


    ada baiknya anda banyk belajar lebih dalam lagi tentang asal muasal suku komering, yang erat hubungannnya dengan, minanga sbg ibu kota karajaan sriwijaya, kemudian berpindah ke palembang, dan berakhir di jambi.

    trims
    Balas
  9. iya sau daraku anonim ( tanpa nama ),
    ini bukan versi saya tapi menurut tulisan orang, tapi saya meyakininya demikian. silahkan terangkan saja dari mana orang2 minanga itu berasal, kalau bukan dari sekala brak juga,
    Balas
  10. Tolong kalo ada ulasan mengenai sungai selabung dan suku-suku disepanjang sungai selabung sampai muaradua...
    Balas
  11. memang benar ada nya begitu sedikit banyaknya.hanya ada sedikit tapi menjadi ganjalan besar saat kita tinjau ulang tentang kepaksian dan sairaja terakhir sebelum paksipak berdiri.kemanakah ia,kemanakah sisa suku kita yang ia bawa,adakah hubungan nya dengan suku batin di jambi atau yang lainnya.karena sudah jelas terang lebihimatahari tengah hari.paksipak adalah perskutuan yang sama tinggi,mungkin buay yang lain dituakan tapi dia bkn putra lelaki buay tumi yang paling berhak menyandang hak raja tanoh&hulun lampung.yang secara adat juga genologis yang syahmengklaim hal tsbt.
    Balas
  12. tak ada yang harus diklaim puakhiku, karena posisi semuanya sama, sama2 datang kesekala brak, suku tumi dipimpin oleh sang ratu, dan ratu dikalahkan oleh paksi, paksi yang meneruskan adat membentuk persekutuan adat, dan tinggal di tanoh bumi.
    Balas
  13. sikham jolma kumoring betung, yakin watt hubungan rik jolma lampung, makmungkin bahasa pacak goh goh amon makwat kolpah piwari. Tabik.....
    Balas
  14. Terimakasih puakhi Bayu Noviando, sangun kham ji puakhi, bahasa kham gegoh, pasti ni tuyuk tamong kham tumbai lamon kaitanni, sehingga bahasa kham dapok gegoh,, terimakasih atas komentarni, kik wat data lain silako sharing dija,, tabik,,,
    Balas
  15. yu, hahaha sangobok lagi ulang tahun niku yo hahaha, gohgoh njuk sikandua niku 29 nyak 27, Selamat ulang tahun, dang mak rajokimu nayah saburai burai, dijuk kasihatan, sukses
    Balas
  16. aminnn terimakasih puakhi bayu,, kekalau jejama kham munyaian daleh mekhawan,, di lom lindungani Tuhan,, aminnn
    Balas
  17. saya sangat tertarik dengan komentar ANONIM di atas yang menyebutkan palembang dari bahasa melayu.suku melayu palembang adalah melayu muda.sedangkan suku/ lampung dengan sub suku sub suku nya adalah melayu tua.lihatlah palembang itu dari kata apa dlm catatan catatan lama.yakni pulimbang.coba tanya dengan jolma kumoring...aguk pa yai(mau kemana bang)--aguk pulimbang pai(pergi kepalembang dulu).
    juga tentang polemik "orang lampung adalah koering juga atau orang komering adalah lampung juga"tidak ada yang salah dengan pernyataan tsb jika di letakkan pada jalur yang tepat.etnis lampung terdiri dari berbagai sub suku yang saling berinteraksi dan saling berbaur,dalam tanoh marga di tanoh lampung baik yang masuk prov lampung kini,sumsel,enclave"pemukiman" di bengkulu,enclave di cikoneng pak ppekon prov banten sejak jaman lama.yang jadi masalah jika kita menggenalisir nya secara tidak proporsional.suku komering ada di prov lampung benar ada nya.komering adalah lampung juga(sebagai suku)benar juga.karena etnis lampung adalah etnis utama sedangkan suku komering,krui,abung,sungkai,semaka,dst dsb adalah sub suku nya bahkan seperti ranau dan kayu aguang adalah nama marga2
    Balas
  18. Alahko akal kutti khambak masa lalu no..
    ngekalau kutti dapok marok sebabalak awak lawan puyang khamik kutti no..
    nyak melehot pai tahi ni naga berisang no kittu dapok jadi emas balak balai
    Balas
    Balasan
    1. yaado. tabik, nekhimanihan
  19. saya mau tanya,
    saya pernah dengar kalo di Lampung (perbatasan Lampung) ada suatu daerah bernama Kampung Banten, itu lokasinya di mana ? dekat kota mana ? terimakasih ..
    Balas
  20. kalo boleh tau penyebaran rumpun sekala brak yang ke daerah muara dua itu ke daerah mana saja?
    Balas
  21. yg saya dengar oyek makananya dn saya suka oyek..
    Balas

Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


dancer

TVRI